Minggu, 13 Februari 2011

Langkah Situs Web Bisnis Popular

Terkadang ada web bisnis yang memiliki konten menarik dan design elegant, kurang mendapat perhatian dari penjelajah internet. Itu bisa terjadi bila web tersebut kurang serius dalam menjalankan strategi internet marketing. Tak ada search engine dengan keyword tertentu menampilkannya di halaman pertama, sungguh bisnis online yang dibangun tak akan lama masa aktifnya. Bagaimana web bisnis berhasil melakukan promosi, temukan jawaban lugas dalam ebook bisnis yang satu ini.

Related posts:

  1. Metode Duplikasi, 6 Langkah Cepat Ciptakan Uang Otomatis Mengupas 10 langkah Spektakuler, Bagaimana Anda bisa membuat produk baru yang dibutuhkan pasar bahkan tanpa ide sekalipun. Menguak tuntas bagaimana membuat ide dasar menjadi sebuah produk informasi untuk bisnis anda....
  2. BISNIS ONLINE PREMAN INTERNET Bisnis online dalam ebook Preman Internet ini, Anda akan mempelajari, Bagaimana mengembangkan bisnis di internet layaknya pebisnis online kelas dunia, cara preman mengeruk tambang bisnis di Internet, mendatangkan banyak pengunjung...
  3. Produk agar Web Popular di Google Agar Web tampil di halaman Google dan lebih popular. Produk jitu dengan menggunakan Script Collection yang satu ini. Quote Advanced PageRank CGI Sitemap Generator Check Backlinks in Google, MSN &...
  4. Bisnis Online – Flash Situs Template Bisnis Online – Flash Situs Template FLA;.SWF | Premium Exklusiv DOWNLOADPaket Bisnis Online 3 DVD, Keyword Pengunjung:bisnis online flashsitus-situs flash templatesitus template terbaruflash bisnissitus templatesitus flashsitus bisnis onlinejual dvd tung...
  5. Template Situs Bisnis Online Dibawah ini adalah template pilihan untuk situs bisnis online yang menyediakan tempat bagi para pebisnis online untuk melakukan transaksi bisnis ataupun bagi para pemula yang ingin memiliki situs bisnis online....
  6. Template Situs Web Bisnis Property Situs Web Properti ini adalah template baru dari template plazza yang telah diciptakan untuk semua orang yang ingin memulai sebuah situs web bisnis yang indah property, tapi template ini adalah...
  7. Script Bisnis Situs Iklan Baris dari Softbiz Softbiz Online Script Iklan Baris PLUS adalah Advanced PHP script untuk menjalankan situs baris Anda. Ini merupakan SCRIPT LENGKAP dengan fitur-fitur berkualitas : * WYSIWYG editor untuk posting iklan *...
  8. Membuat Situs Lowongan Kerja dengan Script Bisnis Otomatis Tak perlu menguasai bahasa pemrograman, Anda sudah mempunyai situs lowongan kerja dalam waktu singkat. Segala informasi mengenai lowongan kerja di berbagai bidang dan lokasi di indonesia mampu anda sajikan untuk...
  9. Kerja di Rumah – Sistem Bisnis Online Apakah kerja di rumah tanpa resiko membayar pajak adalah tepat untuk Anda. Anda mungkin memutuskan hal itu tidak layak atau Anda dapat memutuskan hanya dengan strategi melamar kerja ke perusahaan...
  10. Dapat Uang dengan Situs Jejaring Sosial Sebuah investasi menguntungkan dari pemanfaatan situs jejaring sosial: Semua orang paham cara kerjanya, tapi tidak ada yang melakukan sesuatu untuk pemasaran situs bisnis online miliknya.
sumber : http://megakoleksi12gb.com/langkah-situs-web-bisnis-popular/

Selasa, 04 Januari 2011

Pengaruh Internet Dalam Dunia Pendidikan

A. Latar Belakang
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sangat pesat dan merambah banyak aspek kehidupan manusia terutama bagaimana pemanfaatan media internet dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Internet berawal dari institusi pendidikan dan penelitian di Amerika. Penggunaan internet untuk kepentingan bisnis baru dimulai sejak tahun 1995 sebagai langkah awal masyarakat mengenal manfaat internet. Jika dibandingkan dengan masyarakat di luar negeri, internet ini sering disosialisasikan dengan bisnis dan entertainment.
Di Indonesia, masalah kelangkaan sumber informasi konvensional (perpustakaan) lebih berat dibandingkan dengan di tempat lain. Adanya internet merupakan salah satu solusi pamungkas untuk mengatasi masalah ini. Pemanfaatan media internet hanya sebagian kecil sekolah yang memiliki sambungannya (Internet Connectivity), tetapi belumsemua dilengkapi dengan fasilitas Local Area Network (LAN). Para pakar pendidikan akan mendukung rencana pemanfaatan media internet untuk pembelajaran dan juga akan menyatakan kesiapan untuk melengkapi institute pendidikan (sekolah) dengan jaringan LAN dan sambungan internet. Hal ini akan menuntut peran serta peserta didik dan masyarakat umum (orang tua) untuk memanfaatkan media internet. Para peserta didik akan menjadi sample dalam merespon secara positif tentang pemanfaatan media internet untuk pembelajaran.
Strategi menciptakan manusia yang bersumber daya unggul dan kebebasan masyarakat untuk mengaktualisasikan dirinya merupakan prasyarat pokok bagi perkembangan masyarakat maju. Pemberdayaan masyarakat merupakan konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini merupakan strategi menciptakan manusia kreatif, produktif, berwawasan ke masa depan dan berdaya unggul.

B.Rumusan msalah
1. Bagaimana pengaruh internet dalam dunia pendidikan?
2. Bagaimana memanfaatkan media internet dalam meningkatkan mutu pendidikan?
3. Kendala-kendala apa saja yang dialami dalam memanfaatkan media internet untuk meningkatkan mutu pendidikan?
C.Pembahasan
1. Pengaruh internet dalam dunia pendidikan
Adanya internet memungkinkan mengakses kepada sumber informasi yang mulai tersedia banyak. Dengan kata lain, ini masalah akses semestinya bukan menjadi masalah lagi. Internet dapat dianggap sebagai sumber informasi yang sangat besar dibidang apapun yang diminati pasti ada infornasi dan internet.
Internet merupakanmedia komunikasi dan media pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi guru, siswa, dan masyarakat pada umumnya seta pengaruhnya dalam dunia pendidikan karena belajar melalui internet merupakan belajar secara online. Sistem belajar ini lebih mudah, cepat, dan murah. Selain itu, informasi yang didapat lebih variatif. Bahkan organisasi dunia pun (PBB) telah merancang konsep pendidikan “Education for next generation” yang lebih banyak berbasis informasi, teknologi, dan komunikasi (ITC). Banyak masyarakat yang mengkhawatirkan pemanfaatan media internet di dunia pendidikan, khususnya si sekolah dasar. Teknologi hadir di masyarakat bukan sesuatu yang harus ditolak karena alas an menkhawatirka masa depan anak didik. Tapi, jangan sampai karena kekhawatiran, teknologi itu ditolak. Masyarakat harus optimis kalau hal itu akan memberi manfaat yang besar bagi pendidikan.
Adanya kekhawatiran tersebut dapat diatasi dengan setting room yang tepat, konsep setting tempat yang terbuka, dan tidak akan ada akses untuk membuka situs yang kurang menguntungkan bagi pembelajaran anak didik, contohnya situs-situs porno.
Internet untuk sekolah dasar dapat mengubah paradigma belajar yaitu belajar dari segala arah. Sampai saat sekarang pun proses belajar di sekolah dasar maupun perguruan tinggi lainnya lebih banyak terpaku pada buku dan guru, maupun denganinternet, siswa akan belajar dengan orang yang asing bagi mereka.
Peran serta guru, orang tua juga perlu mengawasi anaknya dalam belajar untuk mendapatkan informasi yang banyak, cepat, dan murah, berdiskusi dengan teman dan guru tentang informasi yang diperoleh.
Pemanfaatan media internet untuk meningkatkan mutu pendidikan dapat mengakses dunia tanpa harus mengelilingi dunia dan untuk meminimalkan dampak negatifnya diperlukan bimbingan yang tepat bagi siswa mengenai sisi positif dan sisi negative untuk membangun kompetisi dari anak.
Pengaruh internet dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah dasar harus diperkenalkan sejak dini karena sangat membantu anak dala mengembangkan wawasannya.
2. pemanfaatan media internet dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam meningkatkan mutu pendidikan, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa sumber belajar hanya dapat diperoleh dari buku, guru, sebagai nara sumber, dan lingkungan sekitar. Ternyata masih ada media yang lebih modern (internet) dimana cakupan informasinya lebih luas, dapat memudahkan peserta didik dan masyarakat pada umumnya untuk mengetahui informasi terkini baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri.
Pada hakekatnya, pembangunan masyarakat yang bersumber daya unggul adalah suatu kegiatan pendidikan informal dan bertujuan untuk mendidik masyarakat agar memiliki perilaku pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang baik untuk melaksanakan pembangunan guna peningkatan taraf kesejahteraan, social, dan ekonomi masyarakat.
Merumuskan suatu program pembangunan masyarakat yang efektif dan efesien adalah suatu pekerjaan rumit dan kompleks, karena yang dihadapi adalah masalah keterbelakangan dan kekurangpahaman demi mencapai mutu sumber daya manusia yang mandiri.
Pemanfaatan media internet dalam meningkatkan mutu pendidikan memegang peranan penting di dalam melahirkan sumber daya manusia produktif dan mandiri, dalam arti mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pandangan bagi diri sendiri.
Adapun beberapa cara/alternative memanfaatkan media internet dalam meningkatkan mutu pendidikan, yaitu:
a. Mengenal/mempelajari internet
Untuk mengetahui informasi-informasi terkini yang sedang merambah di masyarakat umum, maka kita dapat mempelajarinya melalui media internet karena lebih lengkap, cepat diperoleh, dan sangat terpercaya.
b. Mengikuti pelatihan-pelatihan ITC yang diadakan oleh instansi tertentu
Pelatihan-pelatiahan ITC dapat mendukung dunia pendidikan, sehingga jaringan pembelajaran online lebih dimanfaatkan dalam pendidikan global. Selain pemanfaatan dalam dunia pendidikan global, pemerintah sendiripun telah mempercepat perancangan millinium development goals yang semula dicanangkan tahun 2020 dipercepat menjadi 2015. miliinium development goals adalah era pasar bebas atau era globalisasi sebagai era persaingan mutu atau kualitas untuk mempertahankan eksistensinya.
Oleh karena itu, pembangunan sumber daya manusia berkualitas merupakan suatu keniscayaan yang tepat dapat ditawar-tawar lagi. Hal ini mutlak karena akan menjadi penopang utama pembangunan nasional yang mandiri dan berkeadilan, good governance, and clean governance, serta menjadi jalan keluar bagi bangsa Indonesia dari multidimensi krisis, kemiskinan, dan kesenjangan ekonomi.
c. Mengadakan sambungan internet (Internet Connectivity)
Usaha untuk mengadakan sambungan internet (Internet Connectivity) di setiap lembaga pendidikan merupakan tanggung jawab pimpinan lembaga dan pemerintah terkait yang dilandasi dengan kerja sama yang baik.
Percepatan arus informasi dalam era globalisasi dewasa ini menuntut semua bidang kehidupan untuk menyesuaikan visi, misi, tujuan, dan strateginya agar sesuai dengan kebutuhan dan tidak ketinggalan zaman.
Pemanfaatan media internet untuk meningkatkan mutu pendidikan secara langsung mengubah tatanan kehidupan manusia, demikian halnya dalam sistem pendidikan karena sistem pendidikan nasional senantiasa harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi baik di tingkat lokal, nasional, dan global.
3. Kendala-kendala yang dialami dalam memanfaatkan media internet untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Adapun kendala-kendala yang dialami dalam memanfaatkan media internet yaitu:
a. Kurangnya penguasaan bahasa inggris
Suka atau tidak suka, sebagian informasi di internet tersedia dalam bahasa inggris. Penguasaan bahasa inggris menjadi salah satu keunggulan (advantage).
b. Kurangnya sumber informasi dalam bahasa Indonesia
Kita sadari bahwa kita semua orang Indonesia akan belajar bahasa inggris. Untuk itu, sumber informasi dalam bahasa Indonesia harus tersedia. Saat ini belum banyak sumber informasi pendidikan yang tersedia dalam bahasa Indonesia.
Konsep berbagi (sharing) misalnya mebuat materi pendidikan di internet belum merasuk. Inisiatif langkah seperti itu sudah ada, namun masih kurang bayank.
c. Akses internet masih mahal
Meskipun sudah tersedia, akses internet masih mahal. Namun hal ini diharapkan agar menjadi lebih murah di masa yang akan datang. Mekanisme lain adalah adanya subsidi dari pemerintah untuk instansi pendidikan.
d. Akses internet masih susah diperoleh
Beberapa internet masih belum memiliki jalur telepon yang dapat digunakan untuk mengakses internet. Hal ini merupakan hambatan utama dalam pemanfaatan media internet.
e. Guru belum siap
Guru di Indonesia masih belum siap untuk mengguanakan internet sebagai bagian dari pengajarannya. Padahal guru merupakan salah satu pengguna yang dapat memanfaatkan internet sebaik-baiknya. Salah satu contohnya adalah mancari soal-soal latihan untuk kelasnya. Jika setiap guru di Indonesia membuat dua soal dan menyimpannya di internet, maka ada ribuan atau jutaan soal yang dapat digunakan untuk latihan di kelas.
D. Simpulan
Internet adalah media/sumber informasi yang sangat besar. Walaupun pemanfaatan media internet masih mengalami kendala, tapi dari waktu ke waktu tetap diminati oleh masyarakat umum. Informasi-informasi yang redapat dala internet sangat akurat dan terpercaya. Pemanfaatan media ini mengarah pada perubahan yang membawa keuntungan bagi masyarakat luas

sumber : http://www.lintasberita.com/go/820516

Senin, 20 Desember 2010

Review dan Compare berbagai macam tablet PC yang ada (iPad, Samsung Galaxy Tab, Toshiba, HP, dll)

pengertian ipad adalah:
iPad adalah sebuah produk komputer tablet buatan Apple Inc. (AI). iPad memiliki bentuk tampilan yang hampir serupa dengan iPod Touch dan iPhone, hanya saja ukurannya lebih besar dibandingkan kedua produk tersebut dan memiliki fungsi-fungsi tambahan seperti yang ada pada sistem operasi Mac OS X. iPad diperkenalkan pertama kali oleh Steve Jobs, CEO (yang merupakan singkatan dari Chief Executive Officer) dari Apple Inc. dalam Apple Special Event yang bertempat di Yerba Buena Center for the Arts, San Fransisco, Amerika Serikat, pada tanggal 27 Januari 2010. Produk ini dirancang sebagai sebuah perangkat digital yang berada di antara telepon pintar (smartphone) dan komputer jinjing (laptop). Apple Inc. berencana akan mulai memasarkan iPad di Amerika Serikat (AS) mulai 3 april 2010, dengan kisaran harga mulai dari 499 Dolar Amerika Serikat (USD) hingga 829 USD. Namun warga AS sudah dapat memesan produk ini mulai tanggal 12 Maret 2010 melalui Apple Online Store.

Tau iPad? Yep, iPad merupakan PC tablet keluaran Apple ini merupakan gadget yang sedang "panas" dibicarakan. Tapi tau kah kamu, kalau Apple iPad itu bukan PC tablet pertama yang pernah dikeluarkan di muka bumi ini?

20 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1990, PC tablet bernama Gridpad lahir di muka bumi sebagai PC tablet pertama di dunia. Sayangnya, Gridpad tidak berkembang karena harganya yang relatif mahal dibandingkan dengan harga PC Desktop atau Laptop pada jamannya.

Kemudian pada tahun 1993, Apple mengeluarkan PC Tablet pertama mereka yang dinamakan Apple MessagePad. Bentuknya mirip dengan Pocket Digital Assistance (PDA). Apple MessagePad merupakan produk tercanggih pada saat itu, sudah mendukung layar sentuh (touch screen) dan sudah mampu mengenali pola-pola tulisan. Namun lagi-lagi karena harganya yang sangat mahal, Apple MessagePad tidak bertahan lama.

Setelah PC tablet lama vakum di pasaran, PC tablet kembali muncul pada tahun 2002 yaitu dengan munculnya Tablet Notebook Motion Computing M1200 dengan menggunakan sistem operasi Windows PC Tablet. Tablet Notebook Motion Computing M1200 memiliki bentuk yang elegan, tapi sayang karena baterainya yang tidak tahan lama membuat PC tablet ini tewas di pasaran.

Dan akhirnya pada awal april 2010, Apple kembali memunculkan PC tablet. Dengan iPad-nya Apple ingin merubah image PC tablet serta keberhasilan produk mereka. Kekuatan Apple iPad adalah kepiawaian Apple dalam mengemas dan mengkombinasikan aplikasi-aplikasi Apple dengan kualitas dan desain hardware mereka yang berkelas. Bahkan Apple mencoba menjajagi menawarkan format kepada para penerbit buku dan film untuk memformast produk-produk buku dan film, agar dapat dipasang di iPad mereka.

Tidak mau kalah dengan Apple produsen dari Korea Selatan, Samsung menghadirkan Samsung Galaxy Tab. Tak cuma sekadar tablet seperti Apple iPad, Samsung Galaxy Tab juga dilengkapi fungsi telepon dan kamera. Dari segi ukuran, layar tablet yang memiliki sitem opreasi Android versi 2.2 (Froyo) ini memang lebih mungil dibandingkan iPad, hanya sekitar 7 inci. Di dalam layar TFT kapasitif tersebut, Samsung menawarkan resolusi gambar 1024x600 piksel yang ditenagai prosesor Cortex-A8 berkekuatan 1GHz.

Selain itu, untuk konektivitas data, produk dilengkapi GSM/GPRS/EDGE hingga 3G HSDPA 7,2Mbps; HSUPA 5,76Mbps. Wi-Fi? Tak mau kalah dengan iPad. Samsung juga melengkapi tabletnya dengan WLAN Wi-Fi 802.11 b/g/n, plus Bluetooth 3.0 dan USB 2.0

Menilik fiturnya, Samsung Galaxy Tab juga tidak kalah mewah dari pesaingnya. Selain terintegrasi dengan sejumlah jejaring sosial (Facebook, Twitter, MySpace, Plurk, dan lain-lain), tablet Android ini juga dilengkapi dengan pemutar video Full HD, TV-out, pemutar video (MP4/DivX/WMV/H.264/H.263), dan pemutar audio (MP3/WAV/eAAC+/AC3/FLAC).

sumber : http://slipknotinmylife.blogspot.com/2010/10/review-dan-compare-berbagai-macam.html

Boxee Box Review: Better Than Apple TV & Google TV


Boxee finally released its long-awaited Boxee Box two weeks ago, entering the market after both Google TV and Apple TV. The startup’s set-top box is produced by D-Link and the only one of these products that’s available internationally as well, but competing with the big boys will be challenging. In other words: Boxee has to be really, really good to still matter in a year when Google and Apple have refined their products.

I’ve played with the Boxee Box for close to two weeks now, and actually think they have a shot at this, but I gotta admit a bit of a bias first: I’m a paying customer of D-Link and Boxee. I signed up for the box as soon as it was available for pre-order, and wrote about the reasons for doing so here before.

Why does this matter? Well, admitting that you paid $200 for something crappy is much harder than just talking trash about something that you have to eventually send back to the manufacturer. Luckily for me, I didn’t really have to convince myself that I didn’t waste money, because it honestly is one of the nicest solutions for bringing online video to the TV screen I’ve seen.

Check out the latest episode of Cord Cutters for a video review of the Boxee Box, or scroll down to continue reading this review.


The Box itself

To say that the design of the Boxee Box is unique is an understatement. It looks like a tipped-over cube that’s sinking into the surface of whereever you place it. One of the sides is shiny, and upon powering it on, an LED-powered Boxee logo appears. It’s a little too far out there to be an Apple product, but definitely has the same kind of cool to it. However, Boxee didn’t compromise on features, and the company deserves credit for including a big, easily accessible on button. Most of its competitors don’t even have a button like this, which means you’ll have to scramble to unplug the power cord if the unit crashes (and all of them do, at some point).

There’s also an easily accessible SD card slot, which is a bonus for everyone who likes to show off photos on the TV screen. The only thing missing is a more prominent USB port. Boxee features two of them, but both are in close proximity, right under the Ethernet port in the back of the unit. That works well to attach an external USB drive, but it’s not exactly the most convenient place to plug in your Flip camera.

Speaking of ports: Boxee also comes with digital as well as composite audio out and one HDMI port. And yeah, 802.11n Wi-Fi of course.

The remote control

Much has been said about the ingenuity of the Boxee Box remote control, and I gotta agree: This thing is hot. It features a directional pad, a play/pause button and a menu button that doubles as a back button in many cases. Flip it over, and you have a full QUERTY keyboard in your hands. The keyboard keys are made of rubber and have a calculator-like feel to it, so this isn’t anything you want to use to write long-winded emails — but it works like magic to enter URLs, search terms etc., and it makes the setup process so much faster. No more entering your endless WPA key with a painful on-screen keyboard, yay!

I found the remote to work well in most instances, but did occasionally hold it the wrong way, simply because it’s just a little too symmetrical. The keyboard is hard to read in low-light situations — e.g. when you’re watching a movie — but still, I gotta say: This is by far my favorite remote for any of the many media streaming solutions I’ve been testing in recent months. The fact that it works with RF, as opposed to IR, is an added bonus for me: Now I can control the music playing in the living room from the kitchen without worrying about archaic things like line of sight.

The new UI

Boxee significantly revamped its UI for the release of the box, cleaning up the home screen and dropping a number of features hiding in the left side bar. Instead, it now offers a top menu / search bar that offers access to content categories, apps, local files and a search box. The UI changes have enraged some loyal Boxee fans, but I must say, I don’t actually mind the new experience. I’m still occasionally looking for some of the advanced filtering options that could be used to navigate apps and content with the now-gone side bar, but overall, it’s pretty easy to find everything with just a few remote control clicks.

And that’s exactly where Boxee prevails. Even some of the simpler media streamers I’ve tested in recent months had a hard time keeping everything organized in an easily understandable manner, and Google TV added a whole lot of complexity that often left me wondering where to start. Boxee, on the other hand, has a few main categories, and you know exactly where to look for what.

Online content

Boxee’s Movies library features close to 2,200 titles, many of which are free and ad-supported by the way of YouTube, but honestly, you won’t find that much interesting stuff in here right now. The TV show library is slightly better, featuring shows like The Daily Show, The Office, Community and Glee. Many shows only have the most recent episode available, and others, like Modern Family, are completely amiss. That’s because Hulu recently started to block Boxee, and the promised Hulu Plus subscription service isn’t available just yet. Netflix is also amiss, but will come to the Box before the end of the year, according to Boxee, and VUDU is still a few weeks away from being integrated as well.

That being said, you can access streaming shows like Grey’s Anatomy and House directly from the broadcasters’ websites — until those broadcasters decide to block Boxee, just just as they did with Google. In other words: Content rights are a mess, but they will get better once Boxee’s partnerships kick into effect. The fact hat the Box ships without those services available is pretty unfortunate. The again, I did find enough to watch, thanks in part to…

The apps

Boxee has weeded out its app directory, kicking out some of the apps that never really worked or aren’t working with the new software version. Sadly, that means that also a few very good apps, like Clicker or the Twixee Twitter app aren’t currently available. However, the company has been talking to developers, and at least a hand full of apps reappeared within the week that I’ve been testing the box, with now around 140 apps available on the Box. Revision3 is one of them, and others include MLB.tv, Blip.tv and Livestation.

Boxee has also started to add “web apps,” which are essentially just websites optimized for Google TV, from publishers like TNT and Adult Swim. It’s cool to have some of this content easily accessible on Boxee, but treating these sites as apps is actually a pretty interesting approach as well. Let’s face it: Do consumers really care whether something like YouTube Leanback is a native app or a web site?

Finally, it’s worth noting that Boxee is an open platform, so it’s possible to install apps from third-party sources, and there are a number of directories offering additional apps, and content, for your Box.

Local content

Local content playback is one of Boxee’s strengths, and the Boxee Box easily recognized my NAS and played just about anything I threw at it. Well, almost anything, anyway. An obscure 3GP video was apparently a little too esoteric, but otherwise it was smooth sailing. Music streaming also worked really well, and adding additional content sources was easy as pie. One issue to be aware of is that the box apparently only has enough juice to power one USB drive. Even having two Flash drives plugged in will lead to only one being recognized.

Still, this is one area where Boxee again beats both Google TV and Apple TV hands down. Home sharing with Apple TV is a nightmare, and don’t even think about plugging in an external hard drive. Google TV also had issues with local content playback, but with Boxee, it just works. Kind of like an Apple product should behave.

The web experience

Boxee features a full Webkit browser, enabling users to access any web site. However, the remote control has no touch pad, which means that navigating sites is pretty painful. And you’ll inevitably find yourself on sites, even if you browse Boxee’s movie or TV show catalog. Select something like The Daily Show, for example, and Boxee will present you with a list of currently available episodes. Click on one, and you’ll get dumped onto the episode’s web page. But how about this for a happy ending: Press the menu button once, then click the pre-selected maximize icon, and you’re watching the video in full screen.

Granted, this doesn’t quite work that well on all websites. Boxee’s browser tries to recognize a site’s Flash player to allow easy full-screen playback. But sometimes gets confused by Flash banner ads, meaning that you’ll stare at a full-screen Macy’s ad for a few seconds until you realize what happened. You can always access the browser mode again, and then it’s your turn to slowly navigate Boxee’s mouse cursor with the remote’s navigational pad. It’s painful, but you’ll get better at it.

Of course, the big headache ahead for Boxee is that it might eventually get blocked by the major broadcasters, which makes that browser a whole lot less valuable.

The social stuff

Boxee has social built into its DNA. Boxee users can follow each other, much like they can on Twitter, and videos you “like” are automatically recommended to your followers. That’s good in theory, but finding users worth following is a lot of work. Luckily, you can also just use your social graph and connect to services like Twitter and Facebook. Videos of your friends and the people you follow will then automatically show up in your Friends feed. That’s a very cool feature — essentially, you’re using all your friends to curate your web video-infused TV programming.

I found the feeds updating a little slow, and sometimes, the feed simply wasn’t available at all. Still, I found some neat gems this way, and the feed in fact turned into something I’d visit every day as soon as I turned on the box. It’s also something that really sets Boxee apart from its competition, as neither Apple TV or Google TV currently offer anything like this at all.

The final verdict

Boxee has to deal with a lot of the same issues as Google TV when it comes to online content right now: Broadcasters’ web videos could get blocked any day, and Hulu Plus isn’t available just yet. I can understand that this would make some people think twice before buying into the platform. And yes, not having Netflix available is kind of lame. However, I’ve found the Boxee Box to be a great addition to my TV setup, even with some content missing. The experience is more streamlined than on Google TV, and there are infinitely more possibilities to get content and waste hours over hours than with Apple TV, thanks in part to its Twitter and Facebook integration.

Granted, Boxee doesn’t have a number of features that Google TV inherited from Android, like the ability to do multitasking and easily switch between a number of apps and browser windows. The pendulum could also swing once Google and Apple open up their platforms for third-party apps. Still, Boxee is already proving that it can easily handle web apps optimized for Google TV, so it could profit from those other platforms getting more popular as well.

The ability to gracefully handle local content and the awesome remote control are two more reasons make the Boxee Box worth its money alone. Add to that the fact that you’ll soon have access to Hulu Plus, Netflix and VUDU, and you have box that’s maybe not perfect, but definitely very, very nice.


sumber : http://gigaom.com/video/boxee-box-review/

Senin, 27 September 2010

Ilmu Teknologi Akan Menjadi SDM di Beberapa Tahun Mendatang

umber daya manusia adalah hal yang vital. Segala aspek yang berhubungan dengan tenaga kerja, wirausaha serta bisnis sangat tergantung dengan kualitas sumber daya manusianya. Dalam perjalanannya, muncul sebuah teori bahwa SDM yang dibutuhkan adalah mereka yang memiliki suatu kemampuan khusus atau dalam kata lain seorang specialist. Mereka adalah tipe SDM yang bersifat kepakaran tunggal, ahli dan professional dalam 1 cabang ilmu. Namun seiring perkembangan teknologi, akankah SDM tipe spesialis ini masih relevant? Ataukah ada SDM tipe lain yang lebih baik, yang tentunya lebih efektif dan dibutuhkan oleh perusahaan?

Dalam hal ini saya akan mencoba menganalisis dan menghadirkan suatu paradigma berbeda terkait tipe SDM yang sangat/akan dibutuhkan di tahun 2010. Terlebih dahulu saya akan membatasi SDM di bidang Teknologi Informasi. Hal ini menarik karena seperti kita sadari bersama bahwa perkembangan dibidang teknologi informasi ini bisa menyokong seluruh aspek kehidupan, baik ekonomi/perankan, kedokteran, militer, sampai dunia pendidikan. Sehingga tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa SDM teknologi informasi adalah ujung tombak kemajuan suatu bangsa.

Menurut laporan khusus di majalah eBizzAsia bulan Februari 2006. Diramalkan bahwa pada tahun 2010 pasar kerja para spesialis Teknologi Informasi (TI) akan berkurang hingga 40%. Para spesialis (specialist) ini akan digantikan oleh versatilis (versatilist), yang mampu mengkombinasikan kompetensi dan keahlian teknis, dengan pengalaman bisnis dan kemampuan memberikan solusi komprehensif.

Laporan tersebut mengindikasikan bahwa jelas sekali SDM tipe spesialis ini semakin merosot pasar kerjanya. Hal ini wajar mengingat semakin meningkatnya persaingan bisnis seiring dengan semakin kompleksnya perkembangan TI itu sendiri. Selain itu, TI semakin dibutuhkan untuk memecahkan permasalahan di berbagai bidang, sehingga diperlukan solusi multidisiplin, multiplatform dan sesuai dengan konteks permasalahan yang dihadapi.

Banyak ahli yang sudah mendefinisikan terkait SDM versatilis ini, misalnya Gartner dalam situsnya http://www.gartner.com, menyebut istilah “IT versatilist”, yaitu orang-orang yang sudah berpengalaman, memiliki kemampuan untuk menjalankan berbagai tugas yang beragam dan multidisiplin (versatile), dimana semua itu untuk menciptakan suatu pengetahuan (baru), kompetensi dan keterkaitan (context) yang kaya dan padu guna mendorong peningkatan nilai bisnis. Selain dia, Robert E. Kaplan dan Robert B. Kaiser dalam bukunya “The Versatile Leader: Make the Most of Your Strengths Without Overdoing It” juga membahas terkait jiwa seorang pemimpin yang hendaknya tidak membatasi kemampuannya hanya dalam satu bidang. Dalam hal ini mereka menyebutkan bahwa pemimin penting memiliki sifat versatile, karena semakin beragamnya kemampuan kita maka akan semakin fleksibel dan mudah dalam mengontrol karyawan/anak buahnya di perusahaan/organisasi yang dia pimpin.

Sementara itu Romi Satria Wahono, CEO Brainmatics, menyebutkan bahwa sang versatilis adalah seseorang yang fleksibel terhadap teknologi, orientasi utamanya adalah untuk memberikan solusi sesuai requirement (kebutuhan) yang diminta oleh sang customer. Versatilis bukan seorang generalis yang mengenal semua bidang dan teknologi tapi hanya kulitnya (dangkal). Versatilis lahir dari pengalaman matang menjadi seorang spesialis. Namun kembali bahwa versatilis juga bukan spesialis yang hanya mengerti cakupan bidang yang sempit, meskipun dalam. Versatilis adalah seorang spesialis yang berpikir lebih luas, berwawasan, matang, penuh perhitungan, mengerti tentang bisnis, orientasi kerja untuk memberi solusi, mampu bekerjasama (membangun networking) dengan orang-orang TI lain maupun non TI, dan yang pasti tidak mengkotakkan dirinya pada sebuah teknologi, tool atau platform. Itulah dia sang Versatilis!

Terakhir, Masihkah kita puas menjadi seorang spesialis? sudahkah kita bersifat versatilis? Sudah siapkah kita menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat? Tinggal pilihan anda, MAJU atau TERTINGGAL!


sumber : http://www.anakui.com/2009/08/18/menjadi-sdm-ti-berkualitas-di-masa-depan/

Perkembangan Internet di Indonesia

Teknologi informasi telah membuka mata dunia akan sebuah dunia baru, interaksi baru, market place baru, dan sebuah jaringan bisnis dunia yang tanpa batas. Disadari betul bahwa perkembangan teknologi yang disebut internet, telah mengubah pola interaksi masyarakat, yaitu; interaksi bisnis, ekonomi, sosial, dan budaya. Internet telah memberikan kontribusi yang demikian besar bagi masyarakat, perusahaan / industri maupun pemerintah. Hadirnya Internet telah menunjang efektifitas dan efisiensi operasional perusahaan, terutama peranannya sebagai sarana komunikasi, publikasi, serta sarana untuk mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan oleh sebuah badan usaha dan bentuk badan usaha atau lembaga lainya.

Konsep B to B (Busines to Business), B to C (Business to Customer), telah banyak diterapkan oleh sebagian besar perusahaan di dunia. Bahkan terakhir akan merambah ke sektor Government, dengan konsep G to G (Government to Government), G to C (Governement to Customer), serta G to B (Government to Business). Tingkat pertumbuhan pengguna internet juga menunjukan angka yang sangat fantastik, bahkan internet telah menjadi bagian kebutuhan dalam sebuah rumah tangga. Fenomena ini menunjukan bahwa 5 sampai 10 tahun yang akan datang teknologi informasi akan menguasai sebagian besar pola kehidupan masyarakat, badan usaha maupun pemerintah.

Secara keseluruhan memang masih dapat dikatakan bahwa internet relatif baru dikenal oleh masyarakat Indonesia dan frekuensi pemakainyapun belum terlalu banyak. Namun perkembangan internet di Indonesia telah menunjukan perkembangan yang signifikan.

Tabel Peningkatan Jumlah
Pelanggan dan Pengguna Internet
TAHUN PELANGGAN PENGGUNA
1996 31000 110000
1997 75000 384000
1998 134000 512000
1999 256000 1000000
2000 760000 1900000
2001 1680000 4200000
Sumber: APJII

Namun dibandung dengan negara-negara asia yang lebih maju, seperti Singapura, Taiwan dan hongkong, Indonesia masih ketinggalan jauh. Indikasi yang kuat adalah masih terbatasnya jumlah pelanggan internet yang baru berkisar 1.680.000 pelanggan sampai dengan tahun 2001 (APJII) atau tidak lebih 5 persen dari total jumlah rumah tangga di perkotaan. Dibandingkan dengan negara-negara Asia yang tersebut di atas, yang lebih matang pasar internetnya seperti Singapore yang telah memiliki pelanggan sebanyak 47,4 persen dari jumlah rumah tangga maka kondisi pasar internet di Indonesia masih ketinggalan jauh. Sedangkan sebagai pembanding yang lainnya adalah di Taiwan dan Hongkong yang masing-masing 40 persen dan 26,7 persen dari jumlah rumah tangga (Newsbyte, 2001). Contoh lainnya adalah di China yang berpenduduk lebih dari satu milyar telah memiliki tidak kurang dari 24 juta pemakai internet dengan tingkat penetrasi mencapai 7 persen terhadap penduduk di atas usia 5 tahun (Iamasia, 2001). Ditinjau dari gambaran statistik di atas maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masyarakat pengguna internet di Indonesia masih baru taraf pengenalan atau masih merupakan pasar yang baru muncul (mulai).

Walaupun Indonesia masih dalam tahap awal perkembangan pasar internet, namun peningkatan jumlah pelanggan internet yang ada saat ini menunjukan bahwa peluang pasar internet di Indonesia cukup besar. Memang pada tahun 2001 terjadi kelesuan, namun itu bersifat sementara karena efek dari krisis global yang sedang di alami, disamping pengaruh tragedy penghancuran Gedung WTC sebagai simbul pusat perekonomian dunia. Efek dan pengarih global ini bisa dilihat dengan penurunan jumlah registran untuk domain id yang mencapai 17,9 % dari jumlah registran pada tahun 2000, yaitu dari angka 4264 registran turun menjadi 3501 registran. Namun penurunan permintaan domain id tersebut tidak serta merta berbanding lurus dengan pengingkatan jumlah pelanggan internet, karena justru pada tahun 2001 persentasi jumlah pelanggan internet menunjukan kenaikan angka yang sangat tinggi, yaitu 121%, dari 760000 pelanggan meningkat menjadi 1680000 pelanggan.

Perkembangan tersebut juga telah menumbuhkan peningkatan jumlah perusahaan penyedia jasa layanan internet / ISP (Internet Service Provider), yang pada akhir tahun 2001 ini telah mencapai 68 ISP. Hal ini menunjukan bahwa peluang pasar yang dilahirkan dari internet cukup besar. Pada tahun 2001 memang secara global terjadi penurunan khususnya di bisnis cyberspace ini, namun hal itu merupakan seleksi alam dimana ternyata justru peningkatan layanan customer semakin meningkat, dan menunjukan juga bahwa pemain bisnis yang tetap survive adalah para pemain yang serius akan model bisnis yang dikembangkannya (berita detik).

Namun disamping kondisi yang postitif di atas, pada pertengahan kwartal pertama tahun 2002, terjadi fenomena menarik, karena sebuah jaringn ISP terluas yaitu WasantaraNet telah menutup sebagian kantor cabangnya. Kemudian berikutnya, disusul ISP yang memiliki jaringan luas juga, yaitu MegaNet mengumumkan bahwa perusahaannya telah menutup semua kantor operasionalnya. Kondisi ini jelas kurang menguntungkan bagi perkembangan akses informasi oleh masyarakat.

Ada beberapa hal yang menyebabkan tidak beroperasinya kembali sebagian kantor cabang ISP tersebut, dianataranya, karena alasan cost perasionalnya yang terlalu tinggi, yang tidak bisa dipenuhi oleh pendapatanya. Namun pada perkembangan terakhir disebutkan bahwa alasan utamanya adalah karena persaingan tidak sehat yang dilakukan oleh TELKOM, dengan TelkomNet Instantnya.

Dari semua kondisi di atas, yang utama bagi user internet Indonesia adalah akses yang murah dan cepat, sehingga mereka bisa menikmati perkembangan teknologi informasi, terutama user internet di tingkat masyarakat daerah. Semua itu akan terwujud jika pengambil kebijkan di bidang ini bisa memiliki pandangan yang seimbang, baik dari segi user internet (masyarakat), maupun dari segi perusahaan penyedia jasa layanan internet dan teknologi informasi.

sumber : http://www.goechi.com/newsletter.html

DIGITAL THEORY

modernisme adalah istilah umum untuk cara yang dimana manusia menanggapi perubahan yang terjadi selama revolusi industri. Dengan berakar pada pencerahan periode abad kedelapan belas, modernisme cenderung untuk menantang dan teokratis berpusat pada Tuhan pengertian tentang dunia yang telah membantu mendefinisikan masyarakat manusia di masa lalu.

Dengan keyakinan dalam keniscayaan ilmiah banyak aspek modernisme cenderung memiliki keyakinan yang optimis dalam modernitas untuk mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik. Namun, karena pada abad kedua puluh modernisasi berkembang, sehingga
brutal efek ilmu pengetahuan dan industrialisasi pada kehidupan manusia (khususnya di perang dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua) menjadi semakin jelas.Secara khusus, banyak modernis datang untuk melihat industrialisasi sebagai musuh pemikiran bebas dan individualitas; menghasilkan alam semesta menjadi dingin dan tanpa jiwa. Hal ini menjadi alasan bahwa reaksi modernisme terhadap modernitas sering dianggap sebagai intens paradoks. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengubah konsepsi masyarakat dan diri kita sendiri, sehingga seniman dan intelektual mencari cara baru untuk mewakili dan mengartikulasikan fragmentasi dari 'dunia berani baru' ini. Surrealisme jelas didramatisasi ke dalam kekuatan mimpi dan alam bawah sadar,
sedangkan futuris yang dianut cinta untuk teknologi, mesin dan kecepatan. Namun, ada
juga kecemasan yang mendalam tertanam dalam banyak ungkapan-ungkapan artistik, sedangkan,skizofrenia dari pengalaman modern tampaknya di jantung sungai 'dari
novel kesadaran ', sedangkan lukisan di ekspresionis Abstrak tampaknya
mengartikulasikan lanskap kacau, anarkis, aneh dan nihilistik dari modern
dunia.

sebagian modernism berdasarkan keyakinan pada kekuatan seni dan seniman untuk mengubah dunia yang terletak di balik nya ketidakpercayaan besar dan membenci jenis budaya sehari-hari dapat ditemukan di pulp novel, bioskop, televisi, komik, surat kabar, majalah dan sebagainya. Ada banyak contoh yang mencerminkan penghinaan modernisme untuk media, namun mungkin salah satu kelompok yang paling terkenal intelektual untuk mengambil sikap ideologis adalah “Sekolah Frankfurt”. Diasingkan dari Jerman ke Amerika selama Perang Dunia Kedua, kelompok Marxis Eropa dikejutkanoleh bagaimana Amerika memiliki banyak kesamaan dengan produk-produk dari produksi massal. Secara khusus,Sekolah Frankfurt suka melihat media sebagai produk standar industrialisasi, sering menghubungkan budaya massa dengan aspek Fordisme. Fordisme adalah istilah untuk menggambarkan kesuksesan Henry Ford di industri otomotif, khususnya perbaikan metode produksi massal dan pengembangan perakitan line pada 1910. menggunakan teknik produksi massal berarti bahwa mobil bisa dibuat lebih murah dan karena itu menjadi lebih mudah diakses ke Amerika.

Untuk teoretisi Marxis Sekolah Frankfurt, filosofi ini 'Fordist' adalah juga terlihat dalam semua aspek budaya massa, dimana setiap acara televisi, film, pulp,novel, majalah, dan sebagainya semua identik. Mereka mendeskripsikan dari 'Budaya Industri 'jelas mengungkapkan ketidaksukaan mereka untuk ' industri 'produk dan mereka formula kemasan. Daripada penonton merangsang, 'produk' media ini dirancang untuk menjaga massa dalam penindasan mereka dengan menawarkan bentuk homogen dan standar budaya. Theodor W. Adorno menjelaskan dengan referensi musik populer: “Bertujuan Standardisasi Struktural di Reaksi Standar: Mendengarkan populer
musik tidak hanya dimanipulasi oleh promotor tetapi, seakan-akan, oleh sifat yang melekat ini musik itu sendiri, menjadi sebuah sistem mekanisme respon sepenuhnya bertentangan dengan ide individualitas dalam masyarakat, bebas liberal Ini adalah bagaimana musik populer mendivestasikan pendengar spontanitas dan mempromosikan refleks bersyarat.” (Adorno [1941] 1994: 205-6, penekanan dalam dokumen asli).

Meskipun pendekatan pesimistis dari Sekolah Frankfurt terhadap media, masih bisa dipuji karena setidaknya mengambil bentuk-bentuk baru Media ini serius dan layak
studi akademik. Proyek ini dilanjutkan dan dikembangkan oleh strukturalis gerakan yang menjadi semakin populer di tahun 1950-an dan 1960-an. Sebagian tumbuh dari keyakinan pada kekuatan ilmu pengetahuan dan rasionalisme, strukturalisme berpendapat bahwa individu dibentuk oleh struktur sosiologis, psikologis dan linguistik dimana mereka memiliki sedikit kontrol. Keyakinan pada kekuatan berpikir rasional juga informasi metodologi yang dapat digunakan untuk mengungkap struktur-struktur ini dengan menggunakan kuasi-ilmiah metode investigasi. Semiotika memainkan peran sentral,dalam hal ini usaha, yang diterapkan pada segala macam teks budaya dari bioskop untuk iklan dan dari fotografi untuk komik.

Berdasarkan Ferdinand de Saussure dan karya Charles Sanders Peirce tentang linguistik, semiotika ditetapkan yang jelas dan koheren metodologi dimana arti dari teks apapun dapat dibaca secara objektif sebagai suatu system :
'Tanda-tanda' dari. Dengan 'decoding' 'tanda' ini, ahli semiotik secara bertahap bisa terurai berarti dimana penonton sedang dimanipulasi. Seperti Daniel Chandler katakan, 'econstructing dan peserta realitas tanda-tanda yang dapat mengungkapkan realitas memiliki hak istimewa dan yang ditekan. Seperti studi melibatkan menyelidiki konstruksi dan pemeliharaan realitas oleh kelompok sosial tertentu’.
Menurut Marxis, sifat konklusif dari pembacaan tekstual diberikan oleh orang-orang seperti Barthes meninggalkan sedikit keraguan bahwa strukturalisme masih melihat budaya massa sebagai terutama menyebarkan kekuatan ideologi yang dominan dan semua-persuasif. Salah satu yang paling terkenal adalah Barthes. contoh proses di tempat kerja adalah analisis semiotik tentang foto di sampulnya. sebuah majalah Match Paris pada 1955. Menampilkan seorang tentara hitam menghormat bendera Perancis, Barthes berpendapat bahwa ini merupakan contoh dari media memberikan Imperialisme Prancis
citra positif di saat-saat krisis nasional. Jadi sementara metode quasi-ilmiah
strukturalisme membantu untuk lebih sah kajian budaya massa dan media
setelah perang, kesimpulan masih cenderung menunjukkan bahwa penonton tidak berdaya untuk menolak arti tersembunya.Dengan cara ini, maka, kita dapat mulai mengidentifikasi beberapa komponen utama dengan dimana media dan khalayak perusahaan telah disusun dan dianalisa selama semester pertama abad kedua puluh. Secara khusus, konteks modernisme memberi kita teoritis wawasan cara di mana media dipahami dan impuls ideologi yang pasti dipengaruhi teori-teori kritis. Jenis pendekatan teori umumnya tidak mempercayai media, dengan alasan bahwa para penonton diperlukan harus dilindungi dari pengaruh standar dan memalukan. Karena itu berbeda dari ide-ide teoritis yang ada sekarang datang untuk menentukan 'teori digital dan peran Media Baru pada abad ke dua puluh satu.Postmodernisme dan Media Baru Sedangkan modernisme pada umumnya dikaitkan dengan fase awal industri revolusi, postmodernisme (pertama kali diidentifikasi dalam arsitektur (lihat Jenks 1984) lebih umumnya terkait dengan banyak perubahan yang telah terjadi setelah revolusi industri.Sebuah ekonomi pasca-industri (kadang-kadang dikenal sebagai pos-Fordist), adalah satu di mana transisi ekonomi telah terjadi dari manufaktur berbasis perekonomian ke perekonomian jasa berbasis. masyarakat ini ditandai oleh munculnya informasi teknologi, globalisasi pasar keuangan, pertumbuhan pelayanan dan pekerja kerah putih dan penurunan industri berat (lihat Bell 1976). Tidak mengherankan, terlihat bahwa budaya dan politik yang dihasilkan oleh '-pasca industri " masyarakat akan sangat berbeda dengan yang didominasi oleh industri konteks modernisme.
Perubahan budaya sebagian dapat dipahami sebagai produk dari masyarakat konsumen, dimana konsumsi dan rekreasi sekarang menentukan pengalaman kita dari pekerjaan dan produksi.Ini berarti bahwa 'Budaya konsumen' datang untuk mendominasi bidang budaya; bahwa pasar menentukan tekstur dan pengalaman kehidupan sehari-hari kita.
Di dunia 'postmodern' tidak ada titik acuan di luar komoditas dan setiap rasa teknologi.
dirinya yang terpisah secara perlahan dan menghilang.
Perubahan dalam masyarakat pasca-industri telah jelas mempengaruhi cara teori kritis sekarang memahami dan conceives peran media yang saat ini bermain di masyarakat. Secara khusus, telah terjadi pergeseran yang jelas jauh dari budaya pesimisme yang pernah mendefinisikan pendekatan modernis ke media ditemukan dari Sekolah Frankfurt. Mungkin tanda-tanda pertama seperti pergeseran kritis dapat dideteksi dalam karya McLuhan. Sementara McLuhan berbagi banyak kecemasan modernis tentang pengaruh ideologi media pada audiens yang ditipu dan tidak berdaya (Lihat, sebagai contoh, awal nya analisis dampak merugikan dari iklan dalam The Mechanical Bride: Cerita Rakyat Industri Man (1951)), karyanya sering mengkhianatinya sebuah semangat dan kegairahan untuk media yang jarang terdeteksi pada modernis teori kritis. Bahkan gaya penulisannya tampak tenggelam dalam pesan terfragmentasi dari media elektronik dengan aforisme yang terkenal seperti 'medium adalah pesan' muncul untuk meniru slogan iklan atau gigitan suara. Memang, di awal penggunaan istilah 'surfing' (untuk menyebut gerakan cepat, tidak teratur dan multi-directional melalui tubuh dokumen), didahului World Wide Web dan televisi multi-channel oleh
sekitar 30 tahun. Sebagai Levinson (1999) menunjukkan dalam Digital McLuhan, banyak karyanya mengantisipasi kekuasaan New Media untuk meningkatkan interaktivitas dengan penonton informasi elektronik secara keseluruhan - transformasi kita semua 'voyeurs untuk peserta. Pergeseran teoritis dalam konsepsi media dan para penonton kemudian
dilakukan oleh banyak pekerjaan informasi melalui pos-strukturalisme. Sementara strukturalisme umumnya mencerminkan kebutuhan modernis untuk mengungkap makna ideologi laten tertanam dalam teks media, pasca-strukturalisme cenderung mengambil pandangan yang kurang deterministic tentang sifat media secara keseluruhan. Dipengaruhi oleh karya teoretisi seperti Louis Althusser (1971) dan Antonio Gramsci (1971), media analisis secara bertahap mulai untuk mengakui ideologi yang lebih kompleks daripada yang pertama dibayangkan, bahwa media penonton bisa menahan makna ideologi dan bahwa teks-teks itu sendiri bisa 'Polysemic', yaitu, yang terdiri dari beberapa arti. Ini pasti berarti bahwa desakan modernis bahwa teks media bisa ditelanjangi untuk satu makna ideologi menjadi semakin tidak bisa dipertahankan.
Post-strukturalisme menekankan selip antara satu tanda dan berikutnya, antara satu konteks dan berikutnya.sementara makna yang selalu terletak, khusus untuk konteks yang diberikan ...
Teori psikoanalisis dan ideologi, di bawah pengaruh pascastrukturalisme, fokus pada kesenjangan dan celah, yang absen strukturisasi dan yang incoherencies, dalam teks Yang tidak pasti maknanya. dalam teks adalah pusat untuk banyak pascastrukturalis teori, perubahan yang sangat berarti dimana riset kontemporer tidak hanya memahami media tetapi juga penerima atau 'pembaca'. Secara khusus pengaruh, dari pascastrukturalis teori analisis media berarti bahwa penelitian saat ini cenderung kurang menekankan pada cara teks dikodekan (oleh produsen nya) untuk cara-cara ini diterjemahkan (dengan penerima nya).Awalnya disebut sebagai tradisi kepuasan-kepuasan ', metode baru analisis media telah menghasilkan kekayaan
bahan yang berusaha untuk menunjukkan bagaimana kompleks produksi makna antara teks dan penonton sebenarnya. Ini adalah mendalam menjauh dari konsepsi modernis dan strukturalis penonton sebagai dupes budaya pasif, kembali membayangkan mereka bukan sebagai peserta aktif dalam produksi makna. Karena ini menyarankan, penting untuk kedua pandangan postmodern dan pascastrukturalis dari dunia adalah gagasan bahwa makna itu sendiri tidak pernah bisa sepenuhnya disematkan ke bawah. Membangun pemahaman strukturalisme tentang budaya melalui struktur linguistik, pasca-strukturalisme berpendapat bahwa realitas dapat hanya benar-benar diketahui melalui bahasa dan wacana. Ini berarti bahwa bukan hanya dan polos mencerminkan dunia nyata, bahasa sebenarnya konstruksi pandangan kita tentang diri kita dan pengertian kita tentang 'Yang nyata'. Jadi, daripada mencari makna yang lebih dalam yang ajaib ada di luar bahasa dan wacana, pasca-strukturalisme cenderung menganalisis diskursif dan kondisi praktis oleh 'kebenaran' yang dibangun. Jadi sementara modernisme cenderung untuk mencari makna dan kebenaran di antara kekacauan dan fragmentasi dunia modern, postmodernisme muncul untuk menerima
bahwa upaya untuk kebenaran universal tersebut sia-sia. Ketidakstabilan ini 'kebenaran' ini terkait dengan klaim postmodernis bahwa pada akhir orang-orang abad kedua puluh telah berangsur-angsur menjadi lebih skeptis tentang utopis teori-teori seperti Pencerahan dan Marxisme. Menolak mereka sebagai 'grand ' Narasi, teoretisi postmodern cenderung untuk mengkategorikan pandangan dunia total sebagai tidak lebih dari linguistik dan narasi konstruksi. Meskipun mungkin sulit untuk membayangkan seperti teori dalam dunia sebagian dalam cengkeraman fundamentalisme agama, kepercayaan dalam kemungkinan utopia modernisme tidak tampaknya diperebutkan. kritikus berpendapat dunia Barat semakin sinis.
teori Jean-François Lyotard dikatakan: Dalam masyarakat kontemporer dan budaya masyarakat pascaindustri, postmodern Budaya besar telah kehilangan kredibilitasnya, terlepas dari Cara penyatuan menggunakan.apakah itu narasi spekulatif atau sebuah narasi emansipasi Setiap kali kita pergi mencari penyebab dalam hal ini kita pasti akan kecewa.
Memang, beberapa kritikus berpendapat bahwa postmodern sekarang semakin tidak mungkin untuk membedakan antara 'citra' media dan 'nyata' - masing-masing pasangan telah menjadi begitu sangat saling terjalin yang sulit untuk menarik garis antara keduanya. Menurut filsuf Baudrillard (1994), dalam kontemporer masyarakat salinan disimulasikan kini bahkan digantikan objek asli.fenomena ini Baudrillard merujuk sebagai 'orde ketiga simulacra' yang menghasilkan
keadaan 'hyperreality'. Ini tidak berarti bahwa hanya garis antara gambar media dan nyata telah menjadi kabur, melainkan lebih bahwa gambar media dan yang nyata kini menjadi bagian dari entitas yang sama dan karena itu sekarang tidak dapat dipisahkan sama sekali. Sebagai Terbaik dan Kellner katakan, 'realita dan ketidaknyataan tidak tercampur seperti minyak dan air, melainkan mereka terlarut seperti dua asam '. Beberapa kritikus bahkan menyatakan bahwa perbedaan antara mesin dan manusia,sekarang mulai menghilang, cenderung memberantas 'manusia' tua oposisi biner 'teknologi' versus atas yang begitu banyak teori pesimis modernisme didasarkan. Meskipun ide cyborg yang (Hibrida dari mesin dan organisme) mungkin masih dalam masa bayi ilmiahnya, feminis kritikus seperti Donna Hathaway (1991) sudah menggunakannya sebagai metafora untuk kekuatan untuk mendekonstruksi gagasan esensialis gender dan identitas dalam dunia 'posthuman'. Seperti Mark Dery dikatakan: interaksi kita dengan dunia sekitar kita semakin dimediasi oleh teknologi komputer, dan bahwa, sedikit demi sedikit digital, kita sedang 'Borged', sebagai penggemar Star Trek: The Next Generation akan memilikinya - berubah menjadi cyborgian hibrida teknologi dan biologi melalui pernah kita morefrequent interaksi dengan mesin, atau dengan satu sama lain melalui teknologi
interface.Bagi beberapa kritikus, lalu, seperti kerangka teori memberi kita sebuah arena kritis baru melalui mana kita bisa mulai untuk memahami dan memperhitungkan berbagai aspek Baru
Media. Sebagai contoh, ketidakpercayaan postructuralist dan postmodernis yang stabil dan gagasan tetap dari 'nyata' cenderung untuk mencerminkan lanskap New Media di mana seperti
definisi tradisional semakin menjadi problematized oleh teknologi baru. Dengan kedatangan kecerdasan buatan, cyberculture, komunitas virtual dan virtual reality, pengertian kita tentang apa yang 'nyata' dan apa yang 'nyata' jelas mengalami transformasi dramatis. Sebagai contoh, perusahaan yang ada nyata sekarang menempatkan iklan di dunia virtual seperti Second Life, sebuah lingkungan buatan yang berdampak nyata ada penjualan. Jadi bagaimana kita bisa memisahkan 'nyata' dalam contoh ini dari 'virtual'? Apa bagian dari dunia maya adalah 'nyata' dan apa bagian itu tidak? Harus diakui, ini contoh ekstrim, tetapi sebagai sosiolog David Holmes menunjukkan, itu adalah ilustrasi dari jenis yang lebih luas dari perubahan teknologi dan budaya yang perkembangan di New Media saat ini memproduksi: Dari transformasi teknologi dan budaya segudang berlangsung hari ini, satu telah muncul untuk memberikan mungkin kesempatan yang paling nyata bagi memahami dilema politik dan etis dari masyarakat kontemporer. Kedatangan realitas virtual dan komunitas virtual, baik sebagai metafora proses-proses budaya yang lebih luas dan sebagai konteks bahan yang mulai untuk enframe tubuh manusia dan komunikasi manusia (Holmes 1997: 1)

Karena ini menunjukkan problematizing dari apa yang kita pernah diakui sebagai 'real' akan pasti mempengaruhi gagasan yang kita mungkin memiliki sebuah 'otentik diri', yang konsepsi identitas dalam dunia postmodern menjadi semakin cair dan contestable. Secara khusus, telah berpendapat bahwa interaktivitas peningkatan Media umumnya memungkinkan penonton untuk bermain-main dengan dan membuat mereka sendiri komposit identitas dari berbagai dan kadang-kadang bahkan sumber bertentangan. Proses ini dimaksud oleh Hartley (1999: 177-85) 'DIY kewarganegaraan' sebagai, gagasan bahwa media sekarang memungkinkan kita untuk semua membuat kompleks kita sendiri, beragam dan gagasan banyak aspek identitas pribadi. Dengan begitu banyak komunitas yang berbeda sekarang terbuka bagi kita di web, kita bisa mulai untuk hanya memilih dan memilih identitas kita ingin mengadopsi dan yang yang kita ingin menolak, memungkinkan seorang individu untuk memutuskan bagaimana mereka mendefinisikan diri mereka bukan hanya harus menempel ke nomor sempit dan terbatas pilihan yang pernah mendefinisikan masa lalu. Hal ini kontras dengan dunia di mana identitas adalah terutama masalah warisan. Cairan gagasan identitas tentu tampaknya bertentangan langsung dengan konsep kewarganegaraan dan identitas yang disebarkan oleh dasar-dasar yang informasi akar modernisme, khususnya konsep seperti penyiaran pelayanan publik. John Reith konsepsi tentang 'budaya' dan 'Inggris-', misalnya, kini tampaknya menjadi unforgivably sempit dan ketat dalam dunia, transnasional multikultural (apa McLuhan (1962) terkenal digambarkan sebagai 'desa global') yang sekarang banyak tinggal di berkat kedatangan email, satelit dan televisi global. Kritikus postmodernis mungkin berpendapat bahwa bahkan gagasan tentang 'penyiaran' sendiri konsep total yang tidak pernah berhasil mencerminkan keragaman semata-mata bangsa atau orang (lihat Creeber 2004). Ungkapan 'narrowcasting' - yang digunakan untuk menunjukkan New Media diucapkan bunga dalam menangani dan katering untuk pemirsa ceruk - mungkin lebih baik merangkum peran televisi dan radio di dunia multimedia. Seperti yang telah kita lihat, interaktivitas peningkatan penonton di Media Baru konteks juga diartikulasikan dalam teori pascastrukturalis yang kecenderungan untuk hamil penonton sebagai participators aktif dalam penciptaan makna.Website seperti YouTube, MySpace dan Facebook muncul untuk mencerminkan pemahaman baru dari 'partisipatif budaya ', bukan hanya menciptakan komunitas virtual tapi juga memungkinkan para pengunjung untuk menjadi 'produsen' dan 'penerima' dari media. Teori 'fandom' adalah penting di sini dengan internet memungkinkan para penggemar berbagai bentuk budaya menciptakan komunitas virtual yang menambah pemahaman asli dan bahkan konten kepentingan mereka yang dipilih (lihat Bab 7). Misalnya, munculnya 'fiksi garis miring' memungkinkan penonton untuk secara aktif berpartisipasi dalam produksi makna dengan menciptakan extratextual materi tentang program televisi favorit mereka (lihat Jenkins 2006b). Akibatnya, bukannya dilihat sebagai dasarnya komersial dan tidak aktif, dalam konsumsi dunia postmodern sendiri kini dianggap sebagai positif dan partisipatif bertindak. Sebagai Mackay katakan, 'Alih-alih menjadi, pasif sekunder, aktivitas ditentukan, konsumsi dilihat sebagai suatu kegiatan dengan praktek sendiri, tempo,
signifikansi dan penetapan '(1997: 3-4). ide-ide tersebut jelas informasi David Gauntlett's konsep 'Studi Media 2', sebuah perwujudan teori Tim O'Reilly's gagasan Web 2, sebuah dunia di mana pemakai menghasilkan dan mendistribusikan konten, sering dengan kebebasan untuk berbagi, membuat, menggunakan dan menggunakan kembali.
Memang, 'top-down' John Reith budaya 'mengangkat' tampaknya sangat berlebihan dalam
dunia di mana khalayak semakin menentukan pilihan mereka sendiri media dan apa yang mereka lakukan dengan itu. The 'memotong' hypertextual dan 'paste' budaya New Media – bahwa tampaknya mendorong sampling, perburuan dan remixing - menghasilkan tidak hanya hak cipta masalah, itu juga semakin membingungkan sangat sarana yang kita sebut dari
media dan hubungannya dengan penontonnya. Tentu saja, gagasan bahwa media organisasi seperti BBC bisa begitu kaku mendikte selera publik tampaknya hamper tak terbayangkan sekarang. Sebagai Lev Manovich menunjukkan, sekarang kita mungkin memerlukan sepenuhnya teori baru dari penulisnya untuk membantu kita memahami hubungan saat ini antara media dan para penonton, salah satu yang cocok: sempurna dengan logika masyarakat industri dan pasca-industri maju, dimana hampir setiap tindakan praktis melibatkan memilih dari beberapa katalog, menu, atau databse. Bahkan ... New Media adalah ekspresi terbaik yang tersedia dari logika identitas dalam masyarakat - memilih nilai-nilai dari sejumlah pilihan
menu.
Interaktivitas ini meningkat di antara para penonton Media Baru juga diminta beberapa kritik untuk menyarankan bahwa ada bahkan telah menjadi 'demokratisasi meningkat di sifat New Media dibandingkan dengan lama. 'Citizen Journalism' (di mana orang menggunakan blog, foto atau rekaman telepon untuk membuat dan komentar pada berita hari ini) merupakan salah satu
contoh saat ini di antara banyak yang postmodernis mungkin memilih untuk menggambarkan
peningkatan kemampuan 'biasa' orang untuk menjadi aktif terlibat dalam sangat produksi media; bergerak daya jauh dari 'penulis' ke tangan 'Penonton'. Memang, untuk teori seperti Mark Poster (1997), Internet memberikan 'lingkup publik Habermasian' - sebuah jaringan cyberdemocratic untuk berkomunikasi informasi dan sudut pandang yang pada akhirnya akan berubah menjadi public pendapat. Seperti suara di Internet menjadi lebih luas sehingga dapat meningkatkan kami lebih jauh hak-hak demokratis. Konteks postmodern saya telah diuraikan di sini cenderung untuk menempatkan New Media dalam terutama positif ringan, seolah-olah teknologi itu sendiri hanya membuka tingkat peningkatan penonton partisipasi, keterlibatan kreatif dan demokrasi. Namun, lain bab dalam buku ini jelas akan menguraikan beberapa fitur lebih negatif dari ini Baru Media dunia, tidak sedikit 'kesenjangan digital' yang memungkinkan saat ini hanya sebagian kecil planet untuk berpartisipasi dalam budaya digital baru.Bahkan di
Barat, tidak semua peserta Media Baru diciptakan sama.Sebagai Henry Jenkins menjelaskan,
'Corporations - dan bahkan individu dalam media korporasi - masih mengerahkan lebih besar
daya daripada konsumen individu atau bahkan agregat konsumen.Dan beberapa konsumen memiliki kemampuan yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam budaya yang muncul dari yang lain '. Demikian pula, beberapa kritik lihat 'mitos interaktivitas' itu, dengan alasan bahwa
sifat partisipatif New Media sudah over-meningkat sedemikian rupa sehingga sekarang orang menolak untuk melihat keterbatasan. 'Untuk menyatakan sistem interaktif', Espen Aarseth memperingatkan kita, adalah untuk mendukung dengan kekuatan sihir '. Kritik juga berpendapat bahwa pemandangan dari pascamodernisme dan New Media balik warga demokrasi ke konsumen apolitis, tidak lagi mampu membedakan antara ilusi simulasi media dan realitas yang keras kapitalis masyarakat yang menyembunyikan mereka secara implisit.Banyak kritikus berpendapat bahwa sekarang bahkan politik lanskap adalah kemenangan gambar di atas substansi, simbol menakutkan McLuhan et al(1967) pepatah bahwa 'medium adalah pesan', yaitu dunia di mana bagaimana sesuatu disajikan sebenarnya lebih penting daripada apa yang sedang disajikan. Secara khusus, ini kritikus cenderung berpendapat bahwa obsesi postmodern dengan 'citra' atas 'kedalaman' menghasilkan dangkal dan buatan lingkungan di mana sedikit yang serius, itu yang dominan estetika 'kamp' telah berubah segala sesuatu menjadi hiburan.Sebagai Neil Postman menempatkan itu: televisi kami membuat kami dalam komunikasi terus-menerus dengan dunia, tetapi melakukannya dengan wajah yang tersenyum wajah yang tak bisa diubah. Masalahnya adalah tidak bahwa televisi menyajikan kita dengan subjek menghibur tetapi bahwa semua subyek disajikan sebagai menghibur Postman's mimpi buruk visi dunia di mana semua informasi yang dikemas sebagai hiburan mungkin lebih difasilitasi oleh suatu bentuk New Media yang tampaknya memberi kita begitu banyak pilihan, tapi akhirnya berakhir sampai dengan membatasi pilihan nyata; mengurangi semuanya persis produk commodified dan konsumtif yang sama.Kritik berdebat bahwa kekuatan revolusioner avant-garde telah sekarang juga telah direduksi menjadi semata komersialisasi, bentuk modernisme radikal dan estetika digunakan untuk menjual alkohol dan rokok dalam iklan (apa yang David Harvey menyebut 'seni resmi kapitalisme.Alih-alih meningkatkan kemampuan orang untuk bermain dengan berbagai identitas, kritikus bahkan berpendapat bahwa globalisasi dunia (sebagian difasilitasi oleh New Media) benar-benar dapat menurunkan identitas budaya dan nasional seperti yang kita semua menjadi semakin serupa dan budaya homogen. Proses ini telah dijelaskan oleh provokatif satu kritikus sebagai 'McDonaldization' masyarakat .
Internet juga telah dituduh penyempitan pilihan rakyat bawah dan mendorong obsesi dengan hal-hal sepele tidak berharga dan tidak penting seperti hobi aneh dan televisi berkualitas rendah menunjukkan (lihat McCracken 2003). Karena semakin banyak virtual masyarakat terwujud sehingga beberapa kritikus berpendapat bahwa sebenarnya hubungan dan masyarakat diabaikan, satu-ke-satu kontak manusia yang peradaban didasarkan menjadi semakin berlebihan.
Sementara itu, rincian lingkup 'privat' dan 'publik' (orang memperlakukan arena publik dunia maya seolah-olah itu swasta) memiliki implikasi serius pada sipil kebebasan yang baru sekarang diakui sepenuhnya. Baru-baru ini, misalnya, telah dating untuk cahaya yang banyak pengusaha diam-diam menggunakan situs seperti MySpace untuk memastikan kepribadian online seorang karyawan di masa mendatang (lihat Finder 2006). Demikian pula, masih sulit untuk memahami demokratisasi media benar-benar terjadi di negara seperti China di mana Google dan Rupert Murdoch tampak bahagia untuk bekerja sama dengan sensor ketat dari pemerintah non-demokratis untuk mendapatkan akses ke potensi besar keuangan negara.
Beberapa kritik postmodernisme juga berpendapat bahwa jika ada terjadi kemogokan antara 'citra' dan 'nyata', maka kita sedang memasuki usia 'relativisme moral' mana penilaian kritis atau moral sedikit dapat dilaksanakan dan di mana teoretisi bahkan membahas 'realitas' Perang Teluk.berpikir seperti itu,berpendapat, pasti menghasilkan media yang berbahaya dan tidak diatur, di mana tak ada habisnya pornografi hardcore duduk di samping ruang chat yang memangsa kaum muda dan bersalah atau website yang memberikan suara kepada pasukan ekstremis politik. Baru Media mungkin tampak menawarkan dunia gambar mengkilap dan komunikasi tanpa batas, tapi juga penting untuk diingat siapa dan apa yang tersisa dari postmodern yang merangkul. Teknologi utopianisme mungkin mengatakan bahwa New Media secara otomatis akan meningkatkan dunia kita menjadi lebih baik, tetapi kami masa depan kesejahteraan jelas terletak pada bagaimana dan apa yang kita lakukan dengan pilihan yang kita sekarang memiliki yang ditawarkan.
Kesimpulan Apapun sudut pandang teoretis Anda dapat mengambil tentang New Media, sulit untuk berpendapat bahwa media sendiri tidak berada di bawah perubahan besar selama 20 atau 30 tahun. Karena itu kita perlu kerangka teori baru yang memungkinkan kita untuk memahami dan menghargai baik fitur positif dan negatif dari kita saat ini media usia. Ini berarti bahwa pemahaman kritis dari lapangan adalah penting jika kita ingin menghasilkan pendekatan teoritis canggih. Seperti yang saya sebutkan pada awal ini bagian, akan naif untuk menyarankan bahwa pendekatan metodologis dan teoritis ke New Media pernah bisa dibuat dan dianggap sebagai definitif, tetapi bagian ini adalah hanya dimaksudkan untuk menawarkan suatu kerangka di mana sejumlah pendekatan yang dapat lebih hati-hati konteks dan mendekat.
Teori Media Baru masih dalam tahap awal pengembangan dan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyempurnakan dan memperluas beberapa argumen dasar yang ditetapkan di sini dan di tempat lain dalam buku ini. Namun, saya berharap bahwa apa yang jelas sekarang adalah bahwa sejak yang konsepsi, media telah dianalisis dan diuji melalui kebanyakan seluruh beragam sekolah, teori dan metodologi. Saya berharap bahwa dengan hanya mengatur beberapa ini dalam 'modernis' dan 'postmodern' mereka konteks, ia telah membantu untuk mengklarifikasi banyak perdebatan besar yang terjadi di dalam dan sekitar lapangan secara keseluruhan. Meskipun bab-bab lain dalam buku ini mungkin tidak merujuk secara eksplisit modernisme atau postmodernisme, mereka jelas akan memberikan pemahaman yang lebih besar ke beberapa dasar ide-ide teoritis diperkenalkan di sini. 'Teori digital' mungkin belum disiplin dalam sendiri benar, tetapi kehadirannya akan dirasakan di seluruh buku ini dan cara yang kita sebut New Media panjang ke masa depan.

sumber : http://rahmanrosemary13.blogspot.com/2010/09/bab-1-digital-theory.html